Mata Bicara Sesuatu

“ Kenapa masih benggong
khan udah jelas kalo dia tuh nggak bakal suka ama elo jadi lupain aja deh.”.
ujar ren suatu ketika pada tira.

“ Semua yang loe lakuin itu bakal
sia-sia.”. lanjutnya.

Tira masih terdiam. Membiarkan sohibnya
berceloteh sendirian. Entah tira tahu atau tidak.
Entah tira mengerti atau tidak tapi ren
tetap berceloteh.

Sejenak suasana hening. Ren pun mulai
menghentikan bicaranya.

“ Kamu tahu nggak ren dia itu mirip
siapa.”. kata tira.

“ Siapa mirip siapa. Maksud lo langit
sama bintang. Nggak….deh. denger yah tiraku sayang bintang itu sudah lama
pergi, jauh …didunia yang nggak bakal kita sentuh sampai yang maha kuasa
mengijinkannya. Lagian beda banget gitu lho. Bintang tuh ceria energik dan
nggak bersikap sok cueks seperti langit.”.

“ Tapi mereka punya mata yang sama.
Sama-sama jago buat puisi, sama-sama pintar.”.

“ Tapi…mereka tuh hidup di dua alam
yang beda so accept it girls.”.

Mungkin renita bener kalo aku nggak
bisa terus-terusan membandingkan mereka. Tapi aku juga tidak bisa mengingkari
bahwa aku sangat merindukan bintang. Ijinkan aku menatap langit maka itu sama
artinya mengijinkan ku menatap mata bintang. Huh tidak terasa air mataku
meleleh. Andai langit tahu bahwa ia bisa membuatku tenang dan merasa damai.
Merasa jika yang selalu kurindukan ada didekatku. Merasa bahwa aku tidak
sendiri didunia yang penuh kemunafikan ini. Dunia yang tidak lagi menyambutku
ramah. Sekalipun ia tetap bersikap sok acuh. Aku tidak bisa memunafiki diriku
sendiri bahwa aku sungguh-sungguh menyukainya. Dalam lubuk hatiku yang terdalam
ku tidak bermaksud membandingkan mereka tapi aku tak mampu mengelak dari rasa
ini rasa yang merajam-rajam halus perasaanku. Bahwa aku………

“Eh…tira, tira…punya
telinga nggak sih.”. teriak langit.

Seperti biasanya cowok satu ini bicaranya
selalu ceplas-ceplos. Tidak perduli apakah kata-katanya itu menyakitkan hati
seseorang.

“Apa…?.”. jawab tira pelan.

“Eh kirain…….”. Langit menghentikan sejenak
kata-katanya. Ia melihat air mata cewek dihadapannya itu jatuh meleleh.

Dengan segera ia mengeluarkan sapu
tangan hitam dari sakunya.

“ Udah nggak perlu nangis untuk sesuatu
yang nggak penting.”. ujar langit. Lalu dengan cueksnya ia pergi.

Tira menerima sapu tangan itu dan mulai
menyeka air matanya.

Entah apa yang tira rasakan saat itu. Antara
sedih bercampur senang. ARRGGH..langit kenapa kau tidak tahu apa yang tira
rasakan. Bahwa yang kurasa bukan cinta sesaat. Bukan juga karena engkau mirip
dengan seseorang. Tapi karena engkau adalah engkau.

“ Sinting tuh anak.”. gerutu renita.

“ Siapa …?.” Tanya tira.

“ Siapa lagi kalo bukan cowok idola
elo… si langit. Masak dia bilang kalo aku tuh ember bocor. Dasar nyebelin
banget tuh cowok.”.

Sesaat yang lalu langit tampak begitu
hangat. Ia bahkan memberikan ku sapu tangannya.

Hari ini pembagian tugas kelompok.
Tugas laporan design interface. Pelajaran favorite ku.
Tapi tidak begitu dengan renita ia
tampak bosan dengan dosen kami yang satu itu. Ia terus-terusan menguap tiada
henti.

“ Yak..sekarang kita bagi kelompok.”.
kata pak dosen.

“ Urut absen yah..”. lanjutnya

“ APA..pak sekali-kali pilih sendiri
donk pak.”.
Protes renita.

“ Di sini dosennya kamu apa bapak?.”.

“ Yah bapak sih tapi….”.

“ Tidak pake tapi ren. Dua orang-dua
orang.”.

“ Aldo-Andin…Citra-Feby….”. begitu
seterusnya nama demi nama di sebut lalu tibalah giliran namaku di panggil.

“ Langit-Tira.”. tampak tatapan jealous
teman-teman tertuju padaku. Siapa sih yang nggak kepingin satu kelompok dengan
cowok yang paling pinter di kelas.

Namun sayang ia terlihat kaku dan
dingin.

“ 1 bulan lagi di kumpulkan. Kalian
buat sesuatu dengan tema bebas.”. pak dosen mulai melingkari kalender di kelas
kami.

Tanggal 25 mei.

Renita tampak
cemberut karena lagi-lagi ia satu kelompok dengan doni. Cowok yang di dalam
kepalanya hanya ada hal-hal yang berbau porno.

Renita pernah
bilang bahwa doni selalu memberikan judul tugas yang aneh-aneh seperti misalnya
jual beli alat kontrasepsi lewat internet dan jual pakaian dalam. Renita jadi
sebel. Pada akhirnya renita juga yang menentukan judul. Biro jodoh lewat
internet. Wah kalo itu doni nggak bakal bisa nolak. Sebab memang ia lagi
jomblo. Mereka tampak menikmati mengerjakan tugas kelompoknya. Mereka tampak
rukun.

Dua hari berlalu. Tapi langit belum juga memberitahuku
judul untuk tugas kami. Tiap hari aku hanya di ajak untuk membaca buku di
perpustakaan. Entah apa yang ada di pikirannya. Aku juga engan menanyakan hal
itu kepadanya.

“ Emm… sebetulnya kita akan mengambil
judul apa ?.” tanyaku.

Ia hanya terdiam. Menatapku aneh. Diam dan kembali membaca
bukunya. “ Anak-anak jalanan ibukota” begitu kira-kira judul buku itu. Aku tak
lagi berani menanyakan pertanyaan padanya. Kucoba menikmati buku yang ku baca
sekalipun rasa penasaraan ku sangat tinggi. Sebetulnya apa yang ada dalam
pikirannya.

Tiba-tiba saja ia berdiri
dari bangkunya.
Tatapan
matanya tajam memandang ke luar jendela perpustakaan. Matanya tertuju pada satu
perempuan. Margareth nama perempuan itu. Kata anak-anak dulu langit sangat
dekat dengannya. Entah mereka dulu pernah pacaran ataupun tidak aku tidak tahu.
Dan tidak mau tahu. Tapi dari tatapan matanya aku tahu kalau langit sangat
menyukainya. Sangat menyukainya hingga …..hingga.

“ Hei .. bengong aja.”. tiba-tiba
renita menepuk pundakku dari belakang.

“ Gimana tugasmu?.”. Tanya nya.

Aku hanya mengelengkan kepala. Kembali membaca buku yang kupegang.
Mencoba memahami isinya.
Tapi
aku tak bisa berkonsentrasi.

“ Tir..makan yuk lapar nich. Tuh abis
mewawancara cewek-cewek yang jadi model untuk tugasku. Eh ternyata banyak lho
cewek-cewek cakep yang lebih ngejar karir ketimbang cowok.”. ceriwisnya.

Aku masih memandang langit yang
termenung di dekat jendela. Langitku kenapa kau tak pernah tahu bahwa aku juga
…………

“ Aku..pamit ma langit dulu yah.”.

“ Caelah..emang kamu sudah jadi
istrinya, kenapa makan saja mesti ijin ama dia sih. Udah resek. Sok cueks
lah..”.

“ Siapa ?.” renita tersentak seketika.

Mati kutu tatkala langit menanyainya.

“ Eh..itu mau ajak tira makan.”.
katanya beralasan.

“ Langit tira makan dulu yah. Entar
balik lagi.”. pamit tira pada langit.

Kantin kampus terasa sangat sepi. Hanya
beberapa anak yang seliweran. Dan…. Perempuan itu. Perempuan yang dilihat
langit dijendela.

“ Liat apa tir?.”. Tanya renita.

“ Ren kenal nggak ama tuh cewek.”.

“ Siapa?.” Tanya ren.

“ Itu cewek cakep yang pake baju
pink.”.

“ Oh..itu khan kakak kelas kita.
Margareth khan namanya. Kalau tidak salah ia khan mantan pacarnya ditto.
Itu lho cowok yang meninggal
karena kecelakan sepeda motor tahun lalu. Inget nggak elo ama cowok yang
ngebantu kita buat mendirikan tenda. Nah tuh dia ditto. Masak lho lupa sih.
Makanya jangan inget-inget si langit melulu dong. Banyak lagi non cowok yang
lebih baik dari si langitmu itu.”.

“ Iya deh ren…”.

“ Sejak saat itu margareth nggak lagi
punya cowok lho.
Alias
ngejomblo. Padahal khan tampangnya cakep abis.”.

“ Aku kembali meneruskan makanku.”.

Dalam hati aku berkata bahwa. Aku akan
mencari banyak hal tentangmu langitku.

***

“ Kakak kelas pa kabar.”. sapaku pada
margareth.

Ia tersenyum manis padaku. “ Ehh… siapa
yah?.”

“ Nama saya tira. Kita pernah bertemu
di kantin tempo hari.”.

“ Oh ..cewek yang numpahin jus ke tas
ku.”.

“ Iya kak maaf yah waktu itu aku nggak
sengaja.”.

“ Nggak masalah koq.”.

“ Kak saya dengar kakak pintar soal
design interface.
Kapan-kapan
aku boleh belajar sama kakak yah.”.

“ Boleh.. kapan.”.

“ Kalau sekarang gimana kak ?.”.

“ Boleh kebetulan aku lagi senggang
nich. Dosen ku tadi juga lagi nggak masuk. Em..kita ke rumahku aja. Aku akan
tunjukan ke kamu contoh-contohnya.”.

“ Terima kasih.”.

Rumah margareth sangat besar dan megah.
Tapi sepi sunyi. Dan suasananya terasa sangat dingin.

“ Mau minum apa?.”

“ Terserah deh kak. “.

“ Oh..ya aku belum tahu namamu.”.

“ Nama saya tira. Zhatira.”.

“ Oh.. zhatira toh. Kayaknya langit
pernah deh cerita soal cewek yang namanya tira. Apa mungkin itu kamu yah.”.

Aku tersentak kaget sedekat itukah
mereka sampai langit cerita soal aku. Langit …kenapa aku tak pernah tahu
sesuatu tentangmu.

“ Langit pernah bilang kalau ada cewek
yang mirip banget dengan mamiku. Ternyata orang itu kamu toh.”.

“ Ah.. kakak bisa saja. Mungkin langit
hanya mengada-ada.”.

“ Tapi mengenal langit sekian lama. Aku
tahu ia nggak mungkin mengada-ada untuk hal semacam itu.”.

Ternyata benar dugaanku mereka sangat
dekat.
Bahkan
langit mengenal ibunya.

“ Ibuku meninggal setahun lalu. Begitu
juga ditto. Dan aku….merasa sangat kesepian. Untung saja masih ada langit.”.

Langit pantas memilihnya. Karena ia
lebih berhak memilikinya di bandingkan dengan diriku. Aku masih punya orang tua
yang lengkap.

“ Maaf ..kak gara-gara aku kakak jadi
mengingat masa lalu.”.

“ Nggak koq tir. Sudah biasa aku juga
harus kuat. “.

Tiba-tiba saja aku lupa apa tujuanku
kemari.
Margareth
bercerita tentang banyak hal. Tentang ditto, tentang maminya dan…..langit.

Tentang ditto yang sangat berarti dalam
hatinya. Ah.. betapa perempuan yang satu ini sangat mencintai kekasihnya itu.
Pantas saja langit ….

“ Lalu tentang langit. Kakak sepertinya
tahu banyak tentang dia.”.

Lalu margareth memulai ceritanya. Dulu
ibunya menemukan seorang bocah laki-laki berusia 10 th dijalanan. Sendiri tanpa
orang tua. Karena kasihan ibu margareth membawanya pulang. Karena margareth
seorang anak tunggal maka kehadiran langit dalam keluarga mereka sangat
berarti. Langit tumbuh dalam lingkup keluarga yang penuh kasih sayang. Namun
tabiatnya masih saja tetap keras. Mungkin sepuluh tahun hidup dijalanan
membuatnya jadi orang yang kaku, sok cueks dan sbb.

Ternyata kamu diam-diam menyukai kak
margareth yah langit….
Itu
artinya tidak ada kesempatan bagiku untuk bersamamu.

Huh… hari yang panjang. Aku tahu banyak
tentang langit dari kak margareth.
Aku
juga banyak dapat contoh tentang design interface dari kak margareth.

Langit…ternyata kamu….

Malam begitu dingin. Bulan di luar
jendela menatap redup. Esok akan lebih baik dari hari ini. Itu pasti.

***

“ Apa maksudmu datang menemui kakak gue
?”. kata langit mengintrogasi tira.

Tira hanya terdiam. Ia mulai enggan
menjawab pertanyaan langit.
Langit
aku sudah berupaya melupakan mu dari pikiran ku dan dari hatiku.
Tapi aku masih saja belum dapat
melakukannya. Tira hanya pergi.
Tak
lagi memandang langit yang tetap terpaku di tempatnya.

“ Apa maksudmu bersikap seperti itu?”.
Tanya langit lagi.

Tira hanya pergi berlalu. Jangan lagi
menatapku seperti itu langitku. Nanti aku tak bisa melupakanmu. Aku janji
setelah ini aku berjanji akan melupakanmu dari seluruh kehidupanku.

“ Besok saatnya kita mengerjakan tugas
bapak dosen. Jika kamu mau kamu bisa ikut aku. Jika tidak mau aku akan bilang
pak dosen kalau kita mengerjakan tugas ini sendiri-sendiri.”. kata tira datar.

“ Apa maksudmu bersikap seperti itu
pada ku ”. Tanya langit.

“ Bersikap seperti apa?”. Tanya tira
pura-pura tidak mengerti.

“ Jangan sok acuh gitu.”. protesnya
mirip anak-anak kecil yang meminta sesuatu.

“ Dia itu cuman kakakku nggak lebih.”.

“ Aku nggak tanya soal itu.”.

“ Sewaktu aku masih kecil ibunya
mengasuhku. Kini dia seorang diri jadi aku harus menjaganya dengan baik. Dia
kakakku. Hanya sebagai kakak. Kamu jangan salah sangka.”.

“ Jangan salah sangka bagaimana. Lagi
pula untuk apa kamu menceritakan semua itu padaku.
Emangnya aku ini siapa kamu.”.

“ Karena….karena aku…..”.

“ Kau kenapa ?”.

“ Karena aku sangat sayang sama kamu.”.

Tira tersentak kaget. Ah… bisa-bisanya
kata-kata semanis itu keluar dari mulut orang yang super angkuh dan super cueks
seperti langit.

Untuk sesaat mereka terdiam sejenak.
Angin menerbangkan daun-daun di sekitar tempat itu. Sunyi, sunyi yang hangat
sehangat sinar matahari sore yang akan tenggelam.

“ Aku juga sangat sayang kamu.” Jawab tira.

“ Tapi margareth lebih membutuhkan kamu
dibandingkan aku.”. lanjut tira.

Langit jika saja situasinya tidak
seperti ini kita pasti bisa bersama. Takdir jika langit memang untukku maka
kelak pertemukanlah kami kembali.

Tamat

by me : yokeiju
wakakakkkk…ternyata menulis sangat menyenangkan….

Advertisements

One thought on “Mata Bicara Sesuatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s